HorizonFX Logo
Back to Blog
Waspada! Suku Bunga The Fed Terancam Tertahan, Goolsbee Peringatkan 1 Faktor Krusial Ini

Waspada! Suku Bunga The Fed Terancam Tertahan, Goolsbee Peringatkan 1 Faktor Krusial Ini

Horizon Fx Indonesia – Harapan pasar untuk penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat kini diselimuti kabut ketidakpastian. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, memberikan peringatan keras bahwa ancaman tarif impor baru yang diumumkan oleh Presiden Trump dapat menjadi penghambat utama, memperkeruh prospek inflasi, dan memaksa bank sentral AS untuk menunda pelonggaran kebijakan moneter yang telah dinanti-nantikan.

Key Point:

  • > Mengapa ancaman tarif baru menjadi momok bagi kebijakan The Fed.
  • > Bagaimana dilema ini memengaruhi proyeksi inflasi dan ekonomi AS.
  • > Tantangan independensi The Fed di tengah tekanan politik yang memanas.

Dilema The Fed: Antara Data Inflasi yang Membaik dan Ketidakpastian Baru

Selama beberapa bulan terakhir, optimisme pasar sempat menguat. Setelah Presiden Trump menunda rencana tarif bilateral yang curam pada bulan April, kekhawatiran akan lonjakan harga mereda secara signifikan. Menurut Goolsbee, kondisi ini sebenarnya telah membuka jalan bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuannya.  

Suku Bunga The Fed

Namun, babak baru kebijakan proteksionis ini mengubah segalanya. Rencana pengenaan bea masuk sebesar 35% untuk beberapa produk impor dari Kanada dan 50% untuk barang dari Brasil yang akan berlaku mulai 1 Agustus, berpotensi menyulut kembali api inflasi. Ketidakpastian inilah yang memaksa The Fed untuk kembali ke sikap hati-hati ( wait-and-see).

“Saya berharap ketika kami kembali berbicara dengan para pelaku bisnis, mereka tidak mengatakan, ‘Oh, ini membawa kami kembali ke posisi pada 3 April lalu,’” ujar Goolsbee. “Tapi saya tidak tahu, karena ini baru saja terjadi.”

Ingin belajar trading gratis? Gas ke Academy!

The Fed sendiri telah memulai siklus pelonggaran suku bunga sejak September tahun lalu, seiring keberhasilan meredam inflasi pasca-pandemi. Namun, kenaikan inflasi sesaat di awal tahun ini, ditambah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan fiskal, membuat bank sentral mempertahankan suku bunga The Fed di level 4,25% hingga 4,5% sejak Desember.  

Mengapa Tarif Impor Menjadi Batu Sandungan Utama?

Untuk memahami mengapa Goolsbee begitu khawatir, penting untuk mengerti bagaimana tarif impor memengaruhi ekonomi. Tarif adalah pajak yang dikenakan pada barang impor. Kenaikan tarif secara langsung meningkatkan biaya barang tersebut bagi importir, dan biaya ini sering kali dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.  

Ini menciptakan beberapa masalah bagi The Fed:

  • Mendorong Inflasi: Kenaikan harga barang-barang impor secara luas dapat mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) naik, yang merupakan ukuran utama inflasi. Ini bertentangan langsung dengan tujuan The Fed untuk menjaga inflasi tetap rendah dan stabil di target 2%.  
  • Memperlambat Pertumbuhan: Meskipun bertujuan melindungi industri dalam negeri, tarif dapat memicu perang dagang balasan, mengganggu rantai pasok global, dan pada akhirnya memperlambat aktivitas ekonomi.
  • Menciptakan Ketidakpastian: Kebijakan yang tidak dapat diprediksi membuat perusahaan enggan berinvestasi dan berekspansi, yang merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Goolsbee, yang sebelumnya termasuk pejabat The Fed yang paling mendukung pemotongan suku bunga lebih awal, kini menekankan perlunya kehati-hatian ekstra. “Semakin banyak variabel yang kita tambahkan… ini sama saja dengan kembali menebar ketidakpastian di udara,” jelasnya.

Apa itu Tariif? Pengertian Tarrif Disini

Padahal, data inflasi AS sebenarnya menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga Mei, indeks inflasi pilihan The Fed naik hanya 2,3% secara tahunan, sangat dekat dengan target 2%. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah dampak tarif ini akan bersifat sementara atau memicu inflasi berkelanjutan yang memerlukan kebijakan moneter ketat lebih lama.  

Tekanan Politik dan Pertaruhan Independensi Bank Sentral

Situasi ini semakin rumit dengan adanya tekanan politik yang kuat. Presiden Trump secara terbuka mendesak penurunan suku bunga dan melontarkan kritik tajam terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Dengan masa jabatan Powell yang akan berakhir dan Trump akan menominasikan penggantinya tahun depan, ada kekhawatiran bahwa independensi The Fed, prinsip fundamental dalam menjaga stabilitas ekonomi, sedang diuji.  

Beberapa nama yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Powell termasuk Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Tekanan semakin meningkat ketika Gedung Putih menuntut Powell memberikan penjelasan mengenai pembengkakan biaya renovasi markas The Fed.

Menanggapi hal ini, Goolsbee menegaskan komitmennya dan para pimpinan The Fed lainnya untuk menolak intervensi politik.

“Saya masih cukup yakin bahwa budaya di The Fed adalah budaya di mana semua orang menjalankan tugasnya dengan serius dan menyadari betapa pentingnya independensi dari campur tangan politik,” tegasnya.  

Pada akhirnya, keputusan mengenai suku bunga The Fed akan bergantung pada data-data ekonomi yang masuk. Namun, dengan adanya faktor tarif baru yang membayangi, jalan menuju pelonggaran kebijakan moneter tampaknya menjadi lebih terjal dan penuh ketidakpastian. Para investor dan pelaku pasar kini harus mencermati tidak hanya data ekonomi, tetapi juga dinamika politik yang semakin memanas.