
Prospek Emas & BTC 2026: Menavigasi Akhir Era Powell dan Arah Baru The Fed
Horizon Fx Indonesia – Memasuki paruh kedua dekade 2020-an, lanskap ekonomi global berdiri di persimpangan yang kritis. Kita tidak hanya membicarakan satu faktor, melainkan konvergensi dari tiga kekuatan raksasa yang akan menentukan arah pasar: Emas (XAU) yang telah menembus berbagai rekor psikologis, Bitcoin (BTC) yang telah bertransformasi dari aset spekulatif menjadi komponen portofolio institusional, dan The Federal Reserve (The Fed), bank sentral paling berpengaruh di dunia.
Namun, episentrum dari semua gejolak ini tertuju pada satu tanggal spesifik: Mei 2026. Ini adalah akhir dari masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.

Tahun 2026 bukanlah sekadar tahun kalender biasa; ini adalah tahun transisi. Era kebijakan moneter agresif untuk memerangi inflasi pasca-pandemi akan berakhir, dan era baru yang kemungkinan besar akan berfokus pada pengelolaan utang nasional yang membengkak dan pertumbuhan ekonomi yang rapuh akan dimulai.
Kali ini kita akan mengupas tuntas prospek Emas dan BTC menuju 2026, dengan menggunakan analisis fundamental, kuantitatif, dan ekonomi untuk membedah bagaimana akhir era Powell akan menjadi katalisator utama pergerakan harga kedua aset ini.
Berakhirnya Era Powell di The Fed (Mei 2026)
Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada 15 Mei 2026, akan dikenang sejarah sebagai sosok yang menaikkan suku bunga secara paling agresif dalam beberapa dekade terakhir untuk menjinakkan inflasi. Kebijakannya telah menjadi “gravitasi” yang menahan harga aset berisiko dan menaikkan nilai Dolar AS.
Mengapa Transisi Kepemimpinan The Fed Begitu Penting?
Pasar keuangan membenci ketidakpastian. Transisi kepemimpinan di The Fed adalah salah satu sumber ketidakpastian terbesar. Pasar tidak hanya bereaksi terhadap data ekonomi, tetapi juga terhadap interpretasi dan reaksi para pembuat kebijakan terhadap data tersebut.
Pergantian kepemimpinan berarti:
- Perubahan Bias: Apakah Ketua Fed yang baru akan lebih dovish (pro-pertumbuhan, suku bunga rendah) atau hawkish (pro-stabilitas harga, suku bunga tinggi)?
- Perubahan Komunikasi: “Forward guidance” atau sinyal kebijakan dari The Fed akan berubah, memaksa pasar untuk menafsir ulang setiap kata yang diucapkan.
- Volatilitas Politik: Proses nominasi dan konfirmasi oleh Presiden dan Senat AS akan sarat dengan muatan politik, menambah lapisan ketidakpastian lain.
Pada akhir 2025 dan awal 2026, pasar tidak akan menunggu hingga Mei. Pasar akan mencoba “mendahului” (front-running) siapa calon pengganti Powell dan apa bias kebijakannya.
Dari “Melawan Inflasi” menjadi “Mengelola Utang”
Era Powell didominasi oleh satu mandat: menekan inflasi kembali ke target 2%. Namun, Ketua Fed berikutnya akan mewarisi masalah yang berbeda. Dengan utang nasional AS yang kini melampaui $38 triliun, biaya bunga utang itu sendiri menjadi ancaman fiskal.
Ketua Fed yang baru mungkin tidak lagi memiliki kemewahan untuk bersikap hawkish. Mereka mungkin terpaksa menjaga suku bunga tetap rendah (atau menurunkannya) untuk memastikan pemerintah AS dapat mengelola pembayaran utangnya. Ini adalah pergeseran fundamental dari “melawan inflasi” menjadi “mengelola utang” sebuah skenario yang sangat bullish untuk aset keras. Walaupun saat FOMC kemarin Jerome Powell menyampaikan bahwa pemangkasan Desember masih belum dapat di prediksi. Ya kita tau sedikit hawkish, akan tetapi jika melihat kondisi sekarang, itu sangat tidak relevan dimana kita sudah melihat pasar yang melakukan Price In yang dapat kita lihat Emas Terus Naik serta BTC yang masih fluktuaktif diatas harga 1BTC/$100.000.

Emas (XAU) Sang Raja Kembali Merebut Tahta

Seperti Proses King MU…. GGMU GGMU….. (Om J)
Emas telah menjadi bintang utama pada tahun 2024 dan 2025, tetapi momentumnya diperkirakan akan berlanjut kuat hingga 2026. Prospek Emas tidak lagi hanya didorong oleh ketakutan, tetapi oleh pergeseran struktural dalam keuangan global.
Real Yields dan Ekspektasi Pivot Suku Bunga
Pendorong utama harga Emas adalah imbal hasil riil (real yields) yaitu, imbal hasil obligasi pemerintah (misalnya, US Treasury 10-tahun) dikurangi ekspektasi inflasi.
- Saat real yields tinggi (seperti di era Powell), memegang Emas menjadi tidak menarik karena Emas tidak memberikan bunga.
- Saat real yields rendah atau negatif, Emas menjadi sangat menarik karena “biaya peluang” untuk memegangnya hilang.
Menuju 2026, pasar memproyeksikan The Fed (baik di bawah Powell atau penggantinya) akan terpaksa memangkas suku bunga untuk menopang ekonomi yang melambat. Penurunan suku bunga ini akan menekan real yields, menjadikannya bahan bakar utama bagi kenaikan harga Emas.
Belajar Trading ya hanya di Academy Horizon!
De-Dolarisasi dan Pembelian Bank Sentral
Faktor struktural yang lebih besar sedang bermain. Bank-bank sentral di seluruh dunia (terutama di Tiongkok, Rusia, India, dan Turki) secara agresif membeli Emas dalam jumlah rekor.

Ini bukan sekadar investasi; ini adalah langkah geopolitik yang disebut de-dolarisasi. Negara-negara ini mengurangi ketergantungan mereka pada Dolar AS sebagai aset cadangan devisa. Mereka beralih ke Emas sebagai aset cadangan yang netral, aman, dan tidak dapat dibekukan oleh sanksi. Pembelian masif dan berkelanjutan ini menciptakan permintaan dasar (floor price) yang sangat kuat untuk Emas.
Proyeksi Kuantitatif: Jalan Menuju $4.900?
Analisis kuantitatif dari bank investasi besar mencerminkan optimisme ini. Goldman Sachs, misalnya, telah menaikkan proyeksi harga Emas untuk Desember 2026 menjadi $5.055 per ons. Proyeksi ini didasarkan pada ekspektasi pelonggaran moneter yang signifikan dan permintaan berkelanjutan dari bank sentral. Di dalam negeri, ini berpotensi diterjemahkan ke harga di atas Rp 2,5 juta per gram, tergantung pada nilai tukar Rupiah.
Bitcoin (BTC) Emas Digital yang Telah Dewasa

Jika Emas adalah benteng pertahanan kuno, Bitcoin adalah benteng digital modern. Prospek BTC pada tahun 2026 didorong oleh narasi yang berbeda namun sama kuatnya.
Matangnya Efek Pasca-Halving dan Adopsi ETF
Tahun 2026 adalah titik manis (sweet spot) dalam siklus empat tahunan Bitcoin. Kita akan berada dua tahun setelah peristiwa halving 2024. Secara historis, 18-24 bulan setelah halving adalah periode di mana guncangan pasokan (supply shock) di mana jumlah BTC baru yang dibuat berkurang setengahnya benar-benar terasa di pasar.
Guncangan pasokan ini bertemu dengan guncangan permintaan (demand shock) yang masif dari:
- ETF Spot: Adopsi ETF Bitcoin oleh dana pensiun, manajer aset, dan investor ritel yang kini telah matang, menciptakan aliran permintaan harian yang konstan.
- Adopsi Institusional: Perusahaan-perusahaan besar yang mulai menempatkan Bitcoin di neraca mereka sebagai aset cadangan (treasury asset).
Lindung Nilai Inflasi Struktural
Bitcoin dan Emas sering disebut sebagai lindung nilai inflasi, tetapi keduanya melindungi dari jenis inflasi yang berbeda.
- Emas: Unggul dalam periode stagflasi (inflasi tinggi, pertumbuhan rendah).
- Bitcoin: Unggul sebagai lindung nilai terhadap inflasi moneter dan penurunan nilai mata uang (debasement).
Seperti yang dibahas sebelumnya, masalah utang AS sebesar $38 triliun menciptakan inflasi struktural jangka panjang. The Fed pada akhirnya harus “mencetak uang” (quantitative easing) untuk memonetisasi utang ini. Bitcoin, dengan pasokan tetapnya yang hanya 21 juta koin, adalah “sekoci” utama terhadap skenario penurunan nilai mata uang fiat secara global.
Skenario Ekonomi 2026. Arah Baru The Fed
Masa depan tidak pasti. Sebagai analis, tugas kita adalah memetakan skenario yang paling mungkin terjadi. Berikut adalah tiga skenario utama untuk tahun 2026 dan dampaknya bagi Emas serta BTC.
Skenario A: “Soft Landing” & Pivot Dovish (Bullish untuk Keduanya)
- Skenario: Ekonomi AS berhasil “mendarat mulus” (soft landing). Inflasi kembali ke 2%-2,5%, dan pertumbuhan sedikit melambat. Ketua Fed yang baru memangkas suku bunga secara terukur untuk menopang pertumbuhan.
- Dampak pada Emas: Sangat positif. Penurunan suku bunga menekan real yields dan melemahkan Dolar. Emas akan reli kuat.
- Dampak pada BTC: Sangat positif. Ini adalah skenario “Goldilocks” (risk-on). Likuiditas meningkat, memicu aliran dana ke aset pertumbuhan dan teknologi, di mana BTC (sebagai “emas digital”) akan menjadi penerima manfaat utama.
Skenario B: “Stagflasi 2.0” (Bullish untuk Emas, Bearish untuk BTC)
- Skenario: Pertumbuhan ekonomi mandek, tetapi inflasi tetap “lengket” di atas 3% (mungkin karena guncangan harga minyak atau upah). Ketua Fed baru terpaksa tetap hawkish (menjaga suku bunga tinggi) untuk melawan inflasi.
- Dampak pada Emas: Sangat positif. Ini adalah skenario klasik tahun 1970-an. Dalam stagflasi, Emas adalah satu-satunya aset yang bersinar sebagai lindung nilai yang telah teruji.
- Dampak pada BTC: Negatif (jangka pendek). Suku bunga tinggi dan likuiditas yang ketat akan menghantam aset berisiko seperti saham teknologi dan Bitcoin. Arus masuk ETF bisa melambat.
Skenario C: “Hard Landing / Krisis Utang” (Super-Bullish untuk Keduanya)
- Skenario: Ekonomi global mengalami resesi parah (hard landing). Atau, pasar obligasi AS mengalami krisis kepercayaan karena tingkat utang yang tidak berkelanjutan.
- Dampak: Ketua Fed baru tidak punya pilihan selain memangkas suku bunga secara agresif ke nol dan meluncurkan program Quantitative Easing (QE) besar-besaran, membanjiri sistem dengan uang tunai.
- Dampak pada Emas & BTC: Ekstrem Bullish. Ini adalah skenario “runtuhnya kepercayaan pada mata uang fiat”. Investor akan melarikan diri dari uang kertas dan mencari “aset keras” (hard assets). Emas dan Bitcoin akan mengalami lonjakan harga parabola karena status mereka sebagai aset dengan pasokan terbatas.
Ada yang aneh? Sepertinya harus kalian Baca Lagi :).
Yang bisa kita dapatkan? “Alokasi Aset di Persimpangan Jalan 2026”
Tahun 2026 akan ditentukan oleh transisi kekuasaan di The Federal Reserve. Berakhirnya era Jerome Powell pada Mei 2026 akan menutup babak pengetatan moneter agresif dan membuka babak baru yang penuh ketidakpastian.
Namun, dari ketidakpastian ini muncul kejelasan bagi investor:
- Emas (XAU) diuntungkan oleh pergeseran struktural (de-dolarisasi) dan siklus (pivot suku bunga). Ini adalah aset pilihan untuk stabilitas dan perlindungan terhadap stagflasi.
- Bitcoin (BTC) diuntungkan oleh siklus adopsi teknologi (ETF) dan perannya sebagai lindung nilai utama terhadap inflasi moneter jangka panjang dan penurunan nilai mata uang.
Pertanyaan untuk tahun 2026 bukanlah “Emas ATAU Bitcoin?”. Pertanyaannya adalah bagaimana mengalokasikan keduanya. Dalam menghadapi era baru kebijakan moneter di mana utang menjadi masalah utama, portofolio yang terdiversifikasi ke dalam kedua aset keras ini, sang raja kuno dan sang penantang digital, tampaknya bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis.
BONUS: Analisa Calon The Next The Fed President.
Kandidat Utama Pengganti Jerome Powell
Riset menunjukkan lima finalis teratas untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve, berdasarkan pengumuman terbaru dari pemerintahan Trump, termasuk Kevin Hassett, Christopher Waller, Kevin Warsh, Rick Rieder, dan Michelle Bowman. Para analis memprediksi mengindikasikan probabilitas yang bervariasi, dengan Hassett tampil sebagai kandidat terdepan.
- Kevin Hassett: Probabilitas sekitar 40%, karena ia adalah penasihat ekonomi dekat Presiden Trump dan memiliki pengalaman sebelumnya dalam peran kebijakan ekonomi.
- Christopher Waller: Peluang sekitar 17%, mengingat perannya saat ini sebagai Gubernur The Fed dan keselarasan dengan pandangan moneter tertentu.
- Kevin Warsh: Kemungkinan sekitar 16%, diambil dari pengalaman masa lalunya di The Fed dan dukungan di kalangan konservatif.
- Rick Rieder: Peluang sekitar 8%, mencerminkan keahliannya dalam manajemen aset di BlackRock tetapi statusnya bukan orang dalam politik.
- Michelle Bowman: Probabilitas sekitar 3%, sebagai Gubernur The Fed saat ini tetapi dianggap sebagai pilihan yang kurang diunggulkan di pasar taruhan.
Estimasi ini berasal dari data gabungan yang dapat kita termukan sekarang.
Konteks Politik
Dengan Donald Trump sebagai Presiden AS saat ini sejak Januari 2025, proses seleksi mencerminkan prioritas pemerintahannya, seperti memilih kandidat yang mungkin mendukung suku bunga lebih rendah atau deregulasi. Masa jabatan Powell berakhir pada Februari 2026, dan Trump telah menyatakan niatnya untuk menggantikannya, mempersempit daftar ke lima finalis ini sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan Scott Bessent. Konfirmasi Senat akan memainkan peran penting, berpotensi menguntungkan anggota The Fed saat ini seperti Waller dan Bowman untuk persetujuan yang lebih mudah.
Implikasi Potensial
Jika terpilih, para kandidat ini dapat memengaruhi suku bunga dan kebijakan ekonomi. Misalnya, Hassett atau Warsh mungkin mendorong pemotongan suku bunga yang lebih agresif, sejalan dengan preferensi Trump, meskipun ini masih bersifat spekulatif.
Jika kita melakukan analis kuantitatif yang mengkaji calon penerus Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve, laporan ini mengacu pada perkembangan politik terkini di bawah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump, yang dimulai pada 20 Januari 2025, menyusul kemenangannya dalam pemilihan presiden 2024. Masa jabatan Powell sebagai Ketua akan berakhir pada 5 Februari 2026, dan Trump telah secara terbuka mengindikasikan keinginan untuk menunjuk pengganti, dengan alasan perbedaan dalam pendekatan kebijakan moneter. Pengumuman terbaru dari pemerintahan Trump, khususnya dari Menteri Keuangan Scott Bessent, telah mengonfirmasi daftar pendek lima finalis: Kevin Hassett, Christopher Waller, Kevin Warsh, Rick Rieder, dan Michelle Bowman. Nama-nama ini muncul dari proses seleksi yang dipersempit yang melibatkan wawancara dan evaluasi, dengan keputusan diharapkan pada akhir tahun 2025.
Latar Belakang Proses Seleksi
Ketua Federal Reserve dicalonkan oleh Presiden dan dikonfirmasi oleh Senat, membuat prosesnya secara inheren bersifat politis. Di bawah Trump, fokusnya tampaknya pada kandidat yang mungkin lebih menyukai kebijakan moneter yang lebih longgar, berpotensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung dan dinamika pasar tenaga kerja. Bessent, dalam komentar kepada wartawan di Air Force One, memaparkan para finalis, menekankan pengalaman mereka di bidang ekonomi, keuangan, dan kebijakan. Daftar ini disempurnakan dari spekulasi yang lebih luas di awal tahun 2025, yang mencakup nama-nama seperti David Zervos atau Judy Shelton, tetapi kini telah mengerucut di sekitar lima orang ini. Sumber menunjukkan bahwa wawancara telah dilakukan, dengan putaran lain direncanakan, menyoroti pendekatan menyeluruh pemerintahan.
Profil Kandidat dan Probabilitas Kuantitatif
Setiap kandidat membawa latar belakang unik, yang memengaruhi persepsi kecocokan mereka dan peluang pasar. Di bawah ini adalah rincian mendetail, termasuk riwayat profesional, sikap kebijakan, dan probabilitas saat ini yang berasal dari rata-rata data pasar (misalnya, Kalshi 37-41% untuk Hassett, PredictIt 41¢ menyiratkan ~41%, cuplikan Polymarket menunjukkan tren serupa).
- Kevin Hassett: Seorang ekonom terkemuka dan mantan Ketua Dewan Penasihat Ekonomi (CEA) Trump (2017-2019), Hassett saat ini menjabat sebagai Direktur Dewan Ekonomi Nasional (NEC). Ia dikenal karena mengadvokasi pemotongan pajak dan deregulasi, sejalan dengan agenda Trump. Peluang pasar menguntungkannya karena statusnya sebagai orang dalam dan dukungan publik. Probabilitas: ~40%
- Christopher Waller: Sebagai Gubernur Federal Reserve saat ini sejak 2020, Waller memiliki pengalaman dalam kebijakan moneter dan telah menyuarakan pandangan hawkish (cenderung ketat) terhadap pengendalian inflasi. Konfirmasi Senatnya yang sudah ada dapat memudahkan proses, menjadikannya pilihan yang “aman”. Namun, pasar melihatnya sebagai kurang transformatif. Probabilitas: ~17%
- Kevin Warsh: Mantan Gubernur The Fed (2006-2011) di bawah Presiden Bush dan Obama, Warsh adalah seorang pengacara dan bankir investasi yang memiliki hubungan dengan Wall Street. Dia telah mengkritik kebijakan suku bunga Powell dan mengadvokasi akuntabilitas yang lebih besar di The Fed. Peluangnya mencerminkan dukungan konservatif yang kuat tetapi bersaing dengan orang dalam. Probabilitas: ~16%
- Rick Rieder: Chief Investment Officer Global Fixed Income di BlackRock, Rieder mengelola aset lebih dari $2,4 triliun dan dihormati karena wawasan pasarnya. Sebagai orang luar di pemerintahan, pencalonannya akan menandakan kecenderungan ke sektor swasta, tetapi peluang yang lebih rendah menunjukkan skeptisisme tentang kelayakan politiknya. Probabilitas: ~8%
- Michelle Bowman: Gubernur The Fed lainnya saat ini (sejak 2018), Bowman berfokus pada perbankan komunitas dan masalah regulasi. Dia telah berbeda pendapat pada beberapa keputusan suku bunga, menunjukkan kemandirian, tetapi pasar memandangnya sebagai pilihan yang jauh dari unggulan karena advokasi tingkat tinggi yang terbatas. Probabilitas: ~3%
Untuk memvisualisasikan probabilitas ini dan membandingkan atribut kandidat, tabel berikut merangkum data utama:
| Kandidat | Peran/Latar Belakang Saat Ini | Sikap Kebijakan Utama | Probabilitas (%) |
| Kevin Hassett | Direktur NEC, Mantan Ketua CEA | Pro-deregulasi, pemotongan pajak | 40 |
| Christopher Waller | Gubernur The Fed | Hawkish terhadap inflasi | 17 |
| Kevin Warsh | Mantan Gubernur The Fed, Bankir Investasi | Kritis terhadap kebijakan The Fed baru-baru ini | 16 |
| Rick Rieder | CIO BlackRock | Didorong pasar, ahli pendapatan tetap | 8 |
| Michelle Bowman | Gubernur The Fed | Fokus pada regulasi perbankan | 3 |
Tabel ini menyoroti dominasi Hassett, yang probabilitasnya lebih dari dua kali lipat dari pesaing terdekat berikutnya. Probabilitas ini tersirat dari pasar dan menggabungkan faktor-faktor seperti dinamika Senat, anggota The Fed saat ini (Waller, Bowman) mungkin menghadapi konfirmasi yang lebih mudah, berpotensi meningkatkan peluang efektif mereka di luar peluang mentah.