
Analisis PCE AS September 2025: Menjelang Rilis Data Inflasi Favorit The Fed
Horizon Fx Indonesia – Pasar global kembali menahan napas. Pada Jumat malam, 5 Desember 2025 pukul 19:30 WIB, Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) akan merilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index untuk periode September 2025, indikator inflasi yang secara eksplisit menjadi acuan utama Federal Reserve, PCE AS lah yang paling menentukan arah suku bunga The Fed.

Dan kali ini, ketegangannya berbeda: pasar semakin kritis membaca apakah inflasi AS benar-benar mendingin atau justru hanya “beristirahat sebelum kembali memanas”.
Investor obligasi, trader forex, manajer aset, dan bahkan para pengambil kebijakan di Asia, termasuk Indonesia berada dalam mode siaga. Setiap basis poin inflasi dapat mengubah arah yield US Treasury, nilai dolar, serta selera risiko global.

Pasar global memasuki sesi puncak ketegangan kebijakan, laporan PCE AS untuk September 2025. Ukuran inflasi favorit The Fed ini dirilis bertepatan dengan waktu pasar yang sensitif menjelang keputusan suku bunga Desember. Karena PCE AS adalah dasar pengukuran inflasi yang dipakai Fed untuk mengatur siklus moneter, angka ini berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga, arah yield Treasury, kekuatan USD, dan aliran modal ke aset berisiko seperti saham emerging market (termasuk IHSG). Selain itu, karena rilis September sempat ditunda dan dijadwalkan ulang ke 5 Desember 2025, ada akumulasi ketidakpastian yang memperbesar reaksi pasar saat data keluar.
1) Apa itu PCE AS dan mengapa dipilih The Fed
Price Index PCE AS mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga AS. Berbeda dari CPI, PCE AS menggunakan cakupan lebih luas, metode yang lebih dinamis, dan bobot konsumsi yang diperbarui mengikuti pola belanja riil masyarakat.

Price Index PCE AS mengukur perubahan harga barang & jasa yang dikonsumsi rumah tangga yang dihitung oleh BEA dalam laporan Personal Income and Outlays. Core PCE AS mengecualikan makanan & energi, sehingga dianggap lebih stabil untuk menilai tren harga inti. The Fed memberi bobot besar pada core PCE AS karena metodenya menangkap substitusi konsumen dan perubahan perilaku pengeluaran, ia memberi sinyal lebih “policy-relevant” dibanding CPI.
Bagi The Fed, PCE AS ibarat medical check-up yang lebih akurat.
Jika CPI adalah termometer manual, maka PCE AS adalah MRI yang lebih detail, lebih komprehensif, dan lebih sensitif terhadap perubahan ekonomi.

Analogi sederhana: bayangkan inflasi seperti suhu tubuh ekonomi, CPI adalah thermometer cepat yang sering berfluktuasi karena angin (energi, makanan), sedangkan core PCE AS adalah mesin MRI yang dokter (Fed) gunakan untuk memutuskan tindakan medis (kebijakan). Implikasi pasar: angka PCE AS yang lebih tinggi → ekspektasi suku bunga lebih tinggi / penundaan pemotongan → yield AS naik, USD menguat, ekuitas global tertekan.
Inflasi PCE AS memengaruhi:
- Suku bunga The Fed → yang menentukan likuiditas global
- Yield obligasi AS → yang mengatur arus modal internasional
- USD Index (DXY) → yang menentukan kekuatan mata uang dunia
- Aset berisiko → saham, kripto, komoditas
- Rupiah dan pasar Indonesia → karena Indonesia sensitif terhadap dolar dan US yields
Dalam ekonomi global yang saling terhubung, satu angka PCE AS bisa memicu volatilitas lintas pasar dalam hitungan menit.
2) Flashback data sebelumnya: Apa yang Sebenarnya Terjadi?


Headline PCE YoY Trend
Data terakhir yang tersedia sebelum penjadwalan ulang menunjukkan inflasi inti tetap “lengket”: core PCE AS YoY berada ~2.9%, sedangkan headline PCE AS bergerak di kisaran 2.7% YoY pada bulan sebelumnya (Agustus 2025). Pergerakan bulan-bulan terakhir ditopang oleh jasa (terutama perumahan sewa inti / shelter) dan tekanan harga barang tertentu (efek tarif & komoditas), sementara komponen barang yang sensitif terhadap global supply chain menunjukkan tanda pelemahan di beberapa kategori. Di permukaan angka tampak “stabil”, tetapi di baliknya ada pertarungan antara jasa yang linger (sticky) dan barang yang melunak, sebuah dinamika yang menentukan jalan kebijakan Fed.


Pada periode sebelumnya (Agustus 2025), PCE AS menunjukkan pola yang sulit dibaca pasar:
- Headline PCE AS: data actual menguat karena energi dan makanan naik
- Core PCE AS: data actual melandai, terutama sebab dari barang-barang durable seperti otomotif dan elektronik
Namun yang paling menarik adalah komponen jasa, terutama:
- sewa & perumahan (housing inflation) tetap lengket
- layanan kesehatan naik bertahap
- recreational services melemah karena konsumsi pasca-liburan
Pasar menilai laporan bulan lalu sebagai “campuran aroma hawkish dengan sedikit sentuhan dovish”. Hal yang terjadi dibalik angka-angka tersebut adalah inflasi barang menyerah, tapi inflasi jasa belum mau tunduk.
Inilah yang membuat rilis bulan September semakin krusial, apakah tren pelemahan akan berlanjut atau justru berbalik?
3) Prediksi & Proyeksi Kami
Ringkasan angka kunci (konsensus):
- Core PCE AS (YoY) : 2.9% (consensus/actual).
- Core PCE AS (m/m) : +0.2%.
- Headline PCE AS (YoY) : 2.8% (expected/actual range).
- Headline PCE AS (m/m) : +0.3%.
Sumber-sumber pasar yang mengantisipasi/menyajikan hasil menunjukkan core PCE AS tetap pada 2.9% YoY, dan pembacaan bulanan core +0.2% m/m. (Catatan: BEA menunda rilis untuk September dan menjadwalkan ulang pada 5 Desember 2025 sehingga pasar menyesuaikan model nowcasts dan ekspektasi).
Point estimates & ranges (model combined nowcast & konsensus):
- Core PCE AS m/m : point estimate 0.2%, range 0.1%–0.3%.
- Headline PCE m/m : point estimate 0.3%, range 0.1%–0.4%.
Apa yang “tersembunyi”: angka YoY yang stabil menyembunyikan tekanan jasa/shelter yang tetap tinggi (lengket), sementara komponen barang menunjukkan pelemahan. Selain itu, FX pass-through dan biaya energi (fluktuasi BBM) dapat mendorong headline sementara core tetap stubborn, menimbulkan dilema kebijakan: apakah menunggu penurunan jasa lebih lama atau mulai melonggarkan kebijakan?
Interpretasi:
- Barang (goods) kemungkinan tetap disinflasi → inventory retail menumpuk
- Jasa (services) tetap “sticky” → upah tenaga kerja masih tinggi
- Housing menjadi wildcard → perlambatan harga rumah belum cukup menekan inflasi sewa
- Energi memberikan risiko upside → harga minyak naik sejak akhir Agustus
- FX pass-through dari pelemahan dolar dapat menekan harga barang impor
Secara keseluruhan: pasar sedang mencari konfirmasi bahwa inflasi benar-benar menuju target 2%, bukan hanya fluktuasi musiman.
4) Apa Saja Yang Menjadi Faktor Penggerak PCE AS ?
1. Komoditas
Kenaikan harga minyak/gas akan langsung dorong headline dan memicu pass-through ke jasa & transport, sedangkan pelemahan komoditas akan mengurangi tekanan ke depan. Pangan stabil hingga sedikit membantu penurunan inflasi
2. Harga Jasa
Ini adalah medan perang utama. Jasa (Service) tetap menjadi engine inflasi utama, pergeseran sewa & biaya perumahan cenderung lagging, sehingga menahan core.
Kenaikan upah di sektor leisure, hospitality, dan healthcare menahan penurunan inflasi.
3. Perumahan
Biaya sewa masih tinggi, harga rumah baru melunak tetapi efeknya tertunda (lagging)
4. Upah & Tenaga Kerja
tekanan upah yang moderat tapi terus ada mendorong biaya jasa; pelemahan lapangan kerja akan meredam tekanan ini.
4. Konsumsi Rumah Tangga
data PCE AS juga terpengaruh oleh kekuatan belanja: durable goods turun/naik memberi sinyal permintaan riil. Namun belanja mulai normal setelah strong spending di musim panas.
5. Kebijakan Moneter & Fiskal
- Fed (FOMC) masih mempertahankan bias hawkish ringan
- Pemerintah AS menahan ekspansi fiskal menjelang pemilu 2026
- Ekspektasi pemotongan Fed (pricing pasar) sensitif pada print PCE AS: angka lebih tinggi akan memangkas probabilitas cut; angka lebih rendah akan menambah probabilitas cut.
6. Sentimen Global
Ketidakpastian Tiongkok & Eropa menekan permintaan global yang berakibat melemahkan tekanan harga barang.
7. Seasonal Adjustments
September sering menampilkan volatilitas ringan di sektor jasa pendidikan dan transportasi.
Beberapa komponen volatil (wisata musiman, layanan kesehatan musiman) dapat memicu noise; hati-hati pada interpretasi m/m.
Pertarungan saat ini adalah antara jasa yang menolak turun (menjaga core tetap elevated) versus penurunan harga barang & energi yang ingin menurunkan headline. Dengan demikian bisa ditarik hipotesis bahwa inflasi barang melemah, inflasi jasa bertahan, dan energi siap menyerang kapan saja.
5) Skenario trading / investasi
A. Hot / Bearish (angka lebih tinggi dari ekspektasi)
Probabilitas: 20%
Contoh pembacaan: core PCE AS m/m ≥ 0.3% (core YoY naik ke 3.1%), headline m/m ≥ 0.4%
Dampak:
- Yield obligasi (US 2y/10y): naik tajam; steepening/increase 10y +15–30 bps intraday.
- USD / indeks dolar: menguat (risk-off pada EM, safe-haven flows).
- Indeks saham (S&P500, Nasdaq, IHSG): koreksi tajam; risk-off, sektor teknologi & growth tertekan. IHSG melemah karena capital outflow dan rupiah melemah.
- Aset berisiko global: obligasi korporasi spread melebar, ekuitas EM outflow.
- Rupiah / pasar Indonesia: rupiah melemah signifikan; yields domestik naik sedikit mengikuti US rates.
- Sentimen: risk-off; volatilitas (VIX) naik.
B. Base Case (sesuai konsensus)
Probabilitas: 55%
Contoh pembacaan: core m/m ~0.2% (core YoY 2.9%), headline YoY ~2.8%
Dampak:
- Yield obligasi: sedikit fluktuasi; kemungkinan penurunan yields jangka pendek jika pasar melihat ini sebagai sinyal penurunan Fed di Desember (atau sebaliknya jika dianggap persistent).
- USD: relatif stabil, reaksi kecil.
- Indeks saham: mixed but stabil; risk-on/risk-off seimbang. IHSG akan mengikuti sentimen regional namun tidak crash.
- Aset berisiko global: tetap campuran; suku bunga jangka pendek priced untuk potensi cut moderat.
- Rupiah: stabil-ke-lemah ringan tergantung aliran modal intraday.
- Sentimen: wait-and-see; markets price-in kemungkinan cut tapi hati-hati.
C. Cool / Bullish (angka lebih rendah dari ekspektasi)
Probabilitas: 25%
Contoh pembacaan: core m/m ≤ 0.1% (core YoY turun ke 2.6–2.7%), headline turun signifikan
Dampak:
- Yield obligasi: turun (safe yields fall), kurva bisa flatten karena penurunan Fed-rate expectations.
- USD / indeks dolar: melemah.
- Indeks saham (S&P500, Nasdaq, IHSG): rally; risk-on (tech & cyclicals kuat). IHSG berpotensi menguat karena arus modal ke EM.
- Aset berisiko global: spread corporate menyempit; emerging markets rebound.
- Rupiah: menguat vs USD.
- Sentimen: risk-on; investor memperbesar alokasi ke aset berisiko.
(Angka probabilitas di atas adalah kombinasi judgmental + market-implied odds dari sumber nowcasts dan menjelaskan skenario yang paling relevan untuk trader/investor.)
6) Risiko & confidence level
MAE (model nowcast untuk core PCE AS m/m): ~±0.08–0.12 pp. Untuk headline m/m: ±0.10–0.15 pp. (Ini mencerminkan volatilitas komponen makanan/energi dan revisi data).
Ketidakpastian model: tinggi karena penundaan rilis (data sebelumnya di-fill by nowcasts seperti Cleveland Fed / private nowcasters) dan potensial revisi BEA.
Wildcard utama:
- Revisi BEA untuk bulan-bulan sebelumnya (BEA revisions) yang dapat mengubah trend.
- Lonjakan minyak / energi tak terduga → dorong headline.
- Perubahan kebijakan fiskal (tariffs, subsidi) → memengaruhi core goods.
- Noise seasonal (misal promo musiman, pengaruh transport/tourism).
Confidence Level (naratif): Moderately confident pada headline konsensus (karena banyak forecasters converge), namun hati-hati pada interpretasi: core tetap sticky sehingga kebijakan Fed bergantung pada trend beberapa bulan, bukan satu kali reading saja.
7) Our Final Take: Era Para Hawkish Bisa Jadi Berakhir Disini
Pada akhirnya, pasar global tidak sekadar menanti berapa angka yang keluar. Mereka mencari arah, mencari intonasi, dan mencari sinyal apakah The Fed akan mulai membuka pintu penurunan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Bacaan PCE September 2025 yang stabil di core 2.9% akan menegaskan narasi bahwa inflasi inti belum turun ke target 2%, sebuah sinyal bahwa Fed mungkin lebih lambat dalam memangkas suku bunga jika pattern ini terus berlanjut. Namun, jika headline turun cukup signifikan atau jasa menunjukkan pelemahan awal, pasar akan segera menaikkkan probabilitas pemotongan suku bunga lebih cepat.
PCE AS September 2025 bisa menjadi penentu babak baru dalam dinamika kebijakan moneter AS.
Bagi kalian investor dan trader HorizonFX, pesan utamanya simple:
Bukan hanya angkanya yang penting, tetapi NARASI bagaimana pasar membaca angka itu.
Volatilitas adalah peluang, selama Anda memahami konteks permainan besar.