HorizonFX Logo
Back to Blog
THE FED SEPTEMBER INI AKAN PANGKAS SUKU BUNGA!? HAL BAIK YANG DIPAKSA ATAU MEMANG HARUS?

THE FED SEPTEMBER INI AKAN PANGKAS SUKU BUNGA!? HAL BAIK YANG DIPAKSA ATAU MEMANG HARUS?

Horizon Fx Indonesia – Dunia keuangan global kini berada di persimpangan jalan, menanti sebuah keputusan krusial yang akan diambil oleh bank sentral paling berpengaruh di dunia: The Federal Reserve. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan September menjadi sorotan utama, bukan hanya karena potensi pemotongan suku bunga, tetapi juga karena narasi yang mengelilingi keputusan tersebut. Apakah The Fed akan memangkas suku bunga karena dipaksa oleh data ekonomi yang memburuk, atau karena memang harus sebagai langkah strategis untuk mengamankan ekonomi dari risiko yang akan datang? Ini adalah inti dari teka-teki yang kini menjadi topik perdebatan hangat di kalangan para trader, fund manager, dan ekonom di seluruh dunia.

Donald Trump dan Jerome Powell President the Fed
Trump & Powell

Sebagai seorang yang telah berkecimpung di pasar cukup lama, saya melihat ini bukan sekadar keputusan moneter rutin. Ini adalah sebuah drama yang mempertemukan dua mandat yang terkadang bertentangan, stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, dengan tekanan politik dan ekspektasi pasar yang sudah kelewat maju. Keputusan yang akan diambil akan menentukan arah pergerakan Dolar AS, obligasi, pasar saham, dan bahkan aset-aset berisiko tinggi seperti mata uang kripto. Mari kita bedah lapisan demi lapisan dari teka-teki ini, menganalisis data, membedah sentimen pasar, dan menguraikan implikasinya bagi setiap trader profesional.

Menilik Drama di Jackson Hole: Antara Data dan Ekspektasi Pasar

Sebelum pertemuan FOMC, perhatian pasar beralih ke pidato Jerome Powell di Jackson Hole Economic Policy Symposium. Secara historis, forum ini adalah panggung utama bagi The Fed untuk memberikan sinyal kebijakan yang krusial, yang sering kali menggerakkan pasar secara signifikan. Pidato Powell kali ini dinantikan dengan napas tertahan, sebab pasar telah memposisikan dirinya untuk sebuah pemotongan suku bunga di bulan September.

Last Year Jerome Powell On Jackson Hole

Dalam beberapa pekan terakhir, instrumen seperti CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemotongan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan September sudah mencapai angka yang sangat tinggi, bahkan sempat melebihi 90% di beberapa laporan. Angka ini menandakan bahwa para pelaku pasar sudah “mempricing in” pemotongan ini sebagai sebuah kepastian yang hampir mutlak. Hal ini menciptakan sebuah dilema yang rumit bagi The Fed. Jika Powell tidak memberikan sinyal yang cukup

Data Terkini dari FedWatch, untuk update kunjungi: FedWatch – CME Group

dovish di Jackson Hole, yang secara harfiah berarti tidak memenuhi ekspektasi pasar yang sudah tertanam kuat, pasar bisa bereaksi negatif secara signifikan. Reaksi ini mungkin akan terjadi meskipun The Fed memiliki alasan data yang valid untuk menahan diri.

Jackson Hole Economic Symposium – Federal Reserve Bank of Kansas City

Oleh karena itu, pidato Powell akan menjadi sebuah upaya “manajemen ekspektasi” yang sangat cermat. The Fed akan menekankan kembali prinsip mereka untuk tetap “data-dependent” , tetapi dengan nada yang lebih akomodatif untuk memvalidasi sentimen pasar yang sudah ada. Ini menunjukkan bahwa The Fed, meskipun independen, tidak dapat sepenuhnya mengabaikan dinamika pasar yang telah berkembang. Langkah ini diperlukan untuk mencegah gejolak yang tidak perlu dan memastikan bahwa setiap perubahan kebijakan dipahami dan direspons secara teratur oleh pasar. Singkatnya, Jackson Hole adalah tentang The Fed yang menyetir ekspektasi pasar untuk mempersiapkan “pendaratan yang mulus” atau soft landing bagi setiap keputusan yang akan datang.

Konteks Makroekonomi Global Jelang Pertemuan FOMC September

Memahami keputusan The Fed tidak bisa dilakukan tanpa melihat lanskap makroekonomi yang melatarinya. Kondisi ekonomi saat ini adalah sebuah mosaik yang terdiri dari data yang kontradiktif, membuat para pengambil kebijakan berada dalam posisi yang sangat sulit.

BELAJAR TRADING YA HANYA DI ACADEMY HORIZON!

Data Tenaga Kerja AS: Sinyal Pelunakan yang Sulit Diabaikan

Laporan non-farm payrolls (NFP) untuk bulan Juli 2025 memberikan kejutan besar, tetapi bukan kejutan yang positif. Ekonomi AS hanya menambahkan 73.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar. Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah revisi besar-besaran untuk data pekerjaan di bulan Mei dan Juni. Secara kumulatif, revisi ini mengurangi total pekerjaan yang ditambahkan sebanyak 258.000, sebuah penurunan yang sangat signifikan. Meskipun tingkat pengangguran masih tergolong rendah di 4,2%, data ini memberikan sinyal yang jelas bahwa pasar tenaga kerja mulai melunak.

The Employment Situation – July 2025
The Employment Situation – July 2025

Pelunakan ini memberikan bobot lebih pada mandat The Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimum. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pejabat The Fed, Michelle Bowman, ada “tanda-tanda kerapuhan di pasar tenaga kerja,” yang mengindikasikan bahwa risiko terhadap sisi ketenagakerjaan kini mulai muncul. Data ini menjadi amunisi utama bagi para anggota FOMC yang mendukung pemangkasan suku bunga sebagai langkah pencegahan.

Inflasi AS: Perlambatan yang Belum Meredam Kecemasan

Di sisi lain, pertempuran melawan inflasi masih belum sepenuhnya usai. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Juli menunjukkan inflasi utama (headline inflation) berada di angka 2,7% secara tahunan, sedikit di bawah ekspektasi pasar 2,8%. Angka ini pada awalnya memicu reli pasar saham karena investor melihatnya sebagai sinyal bahwa The Fed kini memiliki ruang untuk memangkas suku bunga.

Consumer Price Index – July 2025
Consumer Price Index – July 2025

Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat data yang lebih mengkhawatirkan: inflasi inti (core inflation), yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang volatil, naik menjadi 3,1%. Kenaikan ini didorong oleh sektor jasa, seperti biaya perawatan medis dan tiket pesawat, yang menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang mendasari masih sangat kuat.

Consumer Price Index – July 2025

Konflik antara inflasi utama yang melambat dan inflasi inti yang “bandel” inilah yang menciptakan disensus di dalam The Fed. Beberapa pejabat, seperti Mary Daly, percaya bahwa perlambatan di pasar tenaga kerja sudah cukup untuk membenarkan pemangkasan, dengan asumsi bahwa tekanan inflasi dari tarif akan “berumur pendek”. Namun, ada juga yang lebih berhati-hati, khawatir bahwa inflasi yang lebih tinggi bisa menempel dan membutuhkan respons yang lebih agresif di masa depan.

Geopolitik dan Perang Dagang: Faktor Luar yang Menggoyahkan Stabilitas

The Fed juga harus beroperasi dalam lingkungan geopolitik yang penuh ketidakpastian. Ketegangan perdagangan, terutama yang dipicu oleh Gedung Putih, menambah kerumitan dalam tugas The Fed. Tarif yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya impor, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi.

The Impact of Tariffs on Inflation – Federal Reserve Bank of Boston

Meskipun beberapa pihak percaya bahwa dampak inflasi dari tarif hanya bersifat “satu kali” dan tidak akan persisten, ada ketidakpastian signifikan mengenai waktu, ukuran, dan durasi dampaknya terhadap harga. Ketidakpastian ini diperburuk oleh data ekonomi Tiongkok yang menunjukkan pertumbuhan PDB 5,3% di semester pertama 2025, yang melampaui ekspektasi. Kondisi ini menciptakan risiko yang sulit untuk diprediksi oleh pasar dan memaksa The Fed untuk mengadopsi pendekatan “tunggu dan lihat” yang penuh kehati-hatian, bahkan di tengah tekanan yang meningkat.

Berikut adalah ringkasan visual dari data-data makroekonomi yang menjadi bahan pertimbangan The Fed:

Ringkasan Data Ekonomi Penting AS (Juli-Agustus 2025)

Indikator EkonomiData AktualEkspektasi AnalisImplikasi Utama
Non-Farm Payrolls (Juli)+73.000 pekerjaan>100.000 pekerjaanSinyal pelunakan pasar tenaga kerja yang jelas.
Revisi NFP (Mei & Juni)-258.000 pekerjaanMenunjukkan kelemahan pasar tenaga kerja yang lebih dalam dari perkiraan sebelumnya.
Inflasi Utama (Juli)2.7% YoY2.8% YoYMeredakan kekhawatiran inflasi, memicu optimisme pasar.
Inflasi Inti (Juli)3.1% YoY3.0% YoYMenunjukkan tekanan harga yang masih “bandel,” menciptakan dilema bagi The Fed.
PDBNow (Q3)2.5%Ekonomi AS masih tumbuh, mendukung narasi soft landing.

Analisis Fundamental: Mengapa The Fed Mungkin Terpaksa Pangkas Suku Bunga

Dilema yang dihadapi The Fed adalah bagaimana menyeimbangkan dua mandatnya yang terkadang berlawanan: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Dengan data terbaru, narasi telah beralih dari “melawan inflasi” menjadi “mendukung pertumbuhan ekonomi.” Pergantian fokus ini bukanlah hal sepele; ini adalah sebuah pergeseran psikologis yang dapat memiliki implikasi besar.

Dengan data NFP yang menunjukkan pelunakan pasar tenaga kerja, tekanan untuk memenuhi mandat ketenagakerjaan menjadi lebih kuat. Pasar melihat hal ini sebagai kesempatan bagi The Fed untuk melakukan “insurance cut,” yaitu pemotongan suku bunga sebagai tindakan pencegahan sebelum resesi benar-benar terjadi. Secara historis, pemotongan preemptif, seperti yang terjadi pada tahun 1995, 1998, dan 2019, sering kali berhasil memicu

soft landing dan kinerja pasar ekuitas yang bullish. Ini menciptakan ekspektasi kuat di antara para trader bahwa The Fed akan mengulangi kesuksesan ini.

Twit dari Donald Trump
Di truth Social.

Selain itu, tekanan politik dari Gedung Putih juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Presiden Donald Trump telah berulang kali secara publik menuntut The Fed untuk memangkas suku bunga, mengkritik kebijakan suku bunga yang dianggap “membunuh pertumbuhan”. Meskipun The Fed secara formal independen, kritik publik yang terus-menerus dapat mengikis kepercayaan. Seorang analis senior akan melihat dinamika ini sebagai bagian dari persamaan yang kompleks. Pemangkasan suku bunga, meskipun dibenarkan oleh data tenaga kerja yang memburuk, juga akan secara tidak langsung meredam ketegangan politik. Ini bukan tentang The Fed menyerah, tetapi tentang mereka menggunakan data yang tersedia sebagai pembenaran untuk sebuah langkah yang juga mengurangi risiko politik.

Reaksi Pasar: Mengurai Apa yang Telah Dipricing In (DIP) dan Yang Belum

Sebagai trader, memahami sentimen pasar dan apa yang telah “dipricing in” adalah kunci untuk mengidentifikasi peluang dan risiko. CME FedWatch Tool adalah alat yang tak ternilai dalam hal ini. Probabilitas tinggi (>80%) untuk pemangkasan suku bunga pada September telah menciptakan sebuah keyakinan pasar yang kuat. Namun, penting untuk diingat bahwa alat ini hanya mencerminkan sentimen investor berdasarkan harga kontrak berjangka, bukan merupakan pernyataan resmi The Fed.

2 Year Tresury Yield on 17 August 2025.

Bagaimana kita tahu bahwa pemotongan ini telah dipricing in? Lihatlah pasar obligasi. Imbal hasil Treasury 2-tahun, yang sangat sensitif terhadap kebijakan The Fed, telah turun tajam. Penurunan ini adalah manifestasi langsung dari para trader yang memposisikan diri mereka untuk lingkungan suku bunga yang lebih rendah di masa depan.

10 Year Tresury Yield on 17 August 2025.

Imbal hasil Treasury 10-tahun juga telah mengalami penurunan , menunjukkan bahwa investor tidak hanya percaya pada pemotongan jangka pendek, tetapi juga pada pandangan bahwa pelunakan ekonomi akan berlanjut dan membatasi pertumbuhan jangka panjang. Hal ini mendukung narasi soft landing yang diyakini oleh pasar.

Namun, di sinilah letak risiko terbesar. Jika The Fed, baik melalui pidato Powell di Jackson Hole maupun pada pertemuan FOMC September, memberikan kejutan hawkish, misalnya, dengan menahan suku bunga atau memberikan proyeksi yang lebih konservatif, maka akan terjadi repricing pasar yang sangat cepat. Ini akan menyebabkan volatilitas eksponensial dan bisa memicu koreksi yang signifikan di seluruh kelas aset.

Analisis Mikro: Dampak Potensial pada Kelas Aset Trader

Mata Uang (Forex): Akankah Era “US Exceptionalism” Berakhir?

Secara teori, pemotongan suku bunga akan menyebabkan Dolar AS (USD) melemah. Namun, Dolar AS telah menentang gravitasi selama ini berkat konsep “US Exceptionalism,” di mana ekonomi AS terus mengungguli ekonomi utama lainnya. Dolar AS tetap diminati sebagai mata uang

Illustrasi Dollar.

safe-haven dan dominasinya dalam perdagangan global serta cadangan bank sentral masih tak tergoyahkan.

Bagi trader forex, ini berarti pelemahan USD mungkin tidak akan sedrastis yang diharapkan. Meskipun The Fed memangkas, kekuatan Dolar akan tetap bertahan kecuali jika bank sentral lain, seperti European Central Bank (ECB) atau Bank of Japan (BoJ), mulai melakukan pengetatan moneter atau data ekonomi mereka membaik secara signifikan. Pasangan mata uang seperti EUR/USD akan menjadi arena pertarungan antara pelemahan USD akibat kebijakan The Fed dan data ekonomi Zona Euro yang masih suram.

Ekuitas Global: Meneruskan Reli atau Menghadapi Koreksi?

Pasar saham AS, seperti S&P 500 dan Nasdaq, telah mencapai rekor tertinggi, didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga yang akan meningkatkan daya pinjam dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemotongan suku bunga, terutama yang bersifat

SPX/SP 500 on TradingView

preemptive, secara historis sangat bullish bagi pasar ekuitas.

Namun, penting untuk membedakan antara preemptive cut dan recessionary cut. Jika pemotongan September adalah respons The Fed terhadap perlambatan ekonomi yang lebih parah dari yang diperkirakan, seperti yang disinyalir oleh revisi besar-besaran data NFP, maka pasar saham dapat tergelincir, karena pemotongan tersebut akan dilihat sebagai pengakuan The Fed bahwa ekonomi sedang dalam masalah yang lebih dalam. Sebaliknya, jika data pertumbuhan PDB yang masih solid menunjukkan bahwa pemotongan ini adalah tindakan pencegahan, maka narasi soft landing akan terus berlanjut dan mendukung reli pasar.

Cryptocurrency: Aset Berisiko atau Safe Haven Baru?

Dampak kebijakan The Fed pada pasar kripto adalah sebuah cerita yang menarik. Secara tradisional, aset berisiko tinggi seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) cenderung berkinerja baik di lingkungan kebijakan moneter yang longgar, di mana biaya pinjaman rendah dan likuiditas global melimpah. Oleh karena itu, pemotongan suku bunga The Fed secara historis dipandang sebagai pemicu bullish bagi aset kripto.

Namun, reli pasar kripto baru-baru ini juga didorong oleh faktor-faktor yang lebih struktural dan spesifik, terlepas dari pergerakan The Fed. Pendorong utama adalah adopsi institusional melalui persetujuan dan peluncuran Bitcoin dan Ethereum Spot ETF, yang telah membawa triliunan dolar modal institusional ke dalam ekosistem. Selain itu, dukungan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintahan Trump, yang telah meluncurkan Executive Order dan mengesahkan GENIUS Act untuk menjadikan AS “ibu kota kripto dunia,” memberikan landasan regulasi yang lebih jelas bagi industri ini.

Fact Sheet: President Donald J. Trump Signs GENIUS Act into Law – The White House

Implikasinya bagi trader adalah bahwa pasar kripto kini didorong oleh dua mesin: makroekonomi (kebijakan The Fed) dan mikro-regulasi (ETF, legislasi). Ini berarti bahwa bahkan jika The Fed memberikan kejutan hawkish, adopsi institusional yang berkelanjutan dan dukungan politik dapat menjadi penyangga kuat atau bahkan pendorong harga crypto yang lebih dominan.

Dampak Potensial Pemotongan Suku Bunga The Fed

Kelas AsetSkenario Pemotongan (Sesuai Ekspektasi)Skenario Tidak Ada Perubahan (Hawkish Surprise)
Dolar AS (USD)Melemah, terutama terhadap mata uang yang bank sentralnya menahan diri.Menguat tajam, karena pasar melakukan repricing posisi.
Obligasi (Yield Treasury)Yields jangka pendek turun, Yields jangka panjang turun, mengindikasikan narasi soft landing.Yields naik tajam di semua tenor, memicu kecemasan pasar.
Saham (S&P 500, Nasdaq)Bullish, melanjutkan reli karena pemotongan dianggap sebagai insurance cut.Koreksi tajam, karena pasar meragukan narasi soft landing dan mengkhawatirkan over-tightening.
Bitcoin & EthereumBullish, didorong oleh sentimen risiko yang meningkat.Koreksi jangka pendek, meskipun adopsi institusional dapat memberikan floor yang kuat.

Implikasi Strategis untuk Trader: Jangka Pendek vs. Jangka Panjang

Memahami apa yang mungkin terjadi adalah satu hal, tetapi mengetahui cara bertindak adalah hal yang lain. Keputusan The Fed bulan September memiliki implikasi strategis yang berbeda untuk trader jangka pendek dan investor jangka panjang.

Strategi Jangka Pendek: Volatilitas dan Manajemen Risiko

Bagi trader jangka pendek, pengumuman The Fed adalah momen yang penuh dengan potensi dan risiko. Volatilitas tinggi yang mengikuti pengumuman dapat menciptakan peluang, tetapi juga dapat menghapus akun dalam sekejap. Strategi yang bijaksana adalah:

  • Tunggu Pidato Powell: Daripada bereaksi langsung terhadap pengumuman suku bunga, banyak trader yang menunggu konferensi pers Jerome Powell yang biasanya dilakukan 30 menit setelahnya. Pidatonya dapat membalikkan arah pasar dengan cepat, mengubah sentimen dari bearish menjadi bullish atau sebaliknya.
  • Strategi Volatility Breakout: Trader dapat memonitor level-level support dan resistance kunci. Mereka akan memasuki posisi hanya setelah harga menembus level-level ini dengan tegas, mengikuti arah pergerakan yang telah dikonfirmasi.
  • Pendekatan Wait-and-See: Seringkali, perdagangan terbaik adalah tidak berdagang sama sekali. Bagi trader yang berhati-hati, lebih baik menunggu hingga pasar mereda dan sentimen menjadi lebih jelas sebelum mengambil posisi.

Terlepas dari strateginya, manajemen risiko yang ketat adalah hal yang paling penting. Penempatan stop-loss yang tepat dapat melindungi dari pergerakan harga yang tiba-tiba dan tak terduga.

Strategi Jangka Panjang: Mengapa Trader Harus Mulai Memikirkan Portofolio

Keputusan The Fed bulan September bukan hanya momen trading, tetapi juga titik infleksi penting untuk strategi investasi jangka panjang. Jika The Fed benar-benar memulai siklus pemotongan, ini menandakan perubahan lingkungan kebijakan moneter yang signifikan. Ini adalah sinyal bagi investor jangka panjang untuk mempertimbangkan kembali alokasi portofolio mereka.

Di lingkungan suku bunga yang lebih rendah, modal cenderung beralih dari aset safe-haven seperti obligasi dan tabungan ke aset berisiko yang menawarkan potensi pengembalian lebih tinggi, seperti ekuitas dan kripto. Diversifikasi aset di tengah ketidakpastian adalah strategi yang sangat disarankan.

Penting juga untuk memperhatikan implikasi pajak. Keuntungan dari penjualan aset yang dipegang selama setahun atau kurang (short-term capital gains) biasanya dikenakan pajak dengan tarif yang sama dengan pendapatan biasa, yang jauh lebih tinggi daripada pajak untuk keuntungan jangka panjang (long-term capital gains) dari aset yang dipegang lebih dari setahun. Seorang analis senior akan selalu mengingatkan audiensnya untuk melihat gambaran yang lebih besar, tidak hanya pergerakan harga, tetapi juga implikasi finansial yang lebih luas.

Proyeksi ke Depan

Apakah The Fed akan memangkas suku bunga di bulan September? Analisis yang mendalam menunjukkan bahwa kemungkinan besar ya. Namun, keputusan ini bukan hasil dari satu alasan tunggal. Ini adalah produk dari persimpangan jalan antara data ekonomi yang kontradiktif, tekanan politik, dan ekspektasi pasar yang sudah kelewat maju.

Argumen untuk pemotongan kuat: data tenaga kerja yang melunak dan kebutuhan untuk melakukan insurance cut sebelum resesi benar-benar terjadi. Di sisi lain, argumen untuk menahan diri juga valid: inflasi inti yang masih “bandel” dan kekhawatiran bahwa pemotongan akan memicu tekanan harga lebih lanjut.

Proyeksi ke depan untuk kuartal terakhir 2025 adalah pasar yang tetap volatil. Keputusan The Fed di bulan September, tidak peduli apa pun hasilnya, akan menguji ketahanan pasar global. Jika The Fed memenuhi ekspektasi pemotongan, pasar akan melihatnya sebagai konfirmasi narasi soft landing yang bullish. Namun, jika ada sedikit pun nuansa hawkish atau kejutan yang tak terduga, pasar bisa mengalami koreksi yang cepat dan menyakitkan.

Pada akhirnya, keputusan September akan menjadi cerminan dari kemampuan The Fed untuk menavigasi garis tipis antara menghindari resesi dan menahan inflasi. Bagi setiap trader profesional, momen ini adalah pengingat bahwa di pasar yang didominasi oleh ekspektasi, bersiap untuk segala kemungkinan adalah strategi terbaik. Analisis mendalam, manajemen risiko yang ketat, dan pemahaman yang bernuansa tentang apa yang benar-benar menggerakkan pasar akan menjadi aset paling berharga di masa yang akan datang.