HorizonFX Logo
Back to Blog
Outlook Harga Emas 2026: Menuju Target $5.000

Outlook Harga Emas 2026: Menuju Target $5.000

Horizon Fx Indonesia – Membahas Outlook Harga Emas 2026. Kita mulai dari pergerakan harga emas (XAU/USD) pada pembukaan kuartal pertama tahun 2026 telah menciptakan preseden sejarah baru dalam pasar komoditas global. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran $4.987,55, hanya terpaut beberapa poin dari level psikologis masif di $5.000. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi teknikal biasa, melainkan manifestasi dari pergeseran tektonik dalam lanskap makroekonomi global. Pasar saat ini berada dalam kondisi yang kita sebut sebagai “Paradoks Risiko,” di mana aset berisiko (ekuitas) tetap tangguh namun permintaan terhadap aset pelindung nilai (safe-haven) justru meledak secara eksponensial.

Outlook Harga Emas 2026

Market Mood saat ini didominasi oleh sentimen Cautious Bullish. Meskipun ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan luar biasa dengan pertumbuhan PDB yang stabil, namun di bawah permukaan, terdapat kekhawatiran akut mengenai keberlanjutan utang publik AS dan ketegangan geopolitik yang semakin terfragmentasi. Mengapa market mood bergeser secara signifikan hari ini? Secara edukatif, kita harus memahami konsep Risk-Off Re-pricing. Dalam kondisi normal, data ekonomi AS yang kuat akan mendorong penguatan Dolar dan melemahkan emas. Namun, saat ini pasar melakukan diskonto terhadap risiko sistemik masa depan. Ketika investor mulai meragukan instrumen fiat sebagai penyimpan nilai jangka panjang akibat defisit fiskal yang membengkak, mereka beralih ke emas sebagai “Mata Uang Tanpa Kewajiban” (Currency of Last Resort). Inilah yang menyebabkan korelasi tradisional terkadang terputus; emas naik bukan karena Dolar lemah, melainkan karena kepercayaan terhadap sistem moneter global sedang diuji.

2. Deep Fundamental Analysis & News Catalyst

The Main Driver: Tekanan Politik terhadap Independensi The Fed dan Geopolitik Greenland

Katalis utama yang menggerakkan pasar pada 24 Januari 2026 ini adalah kombinasi dari ketidakpastian suksesi kepemimpinan di Federal Reserve dan eskalasi retorika diplomatik terkait klaim wilayah strategis. Spekulasi mengenai calon pengganti Jerome Powell, yang dianggap oleh pasar sebagai figur yang lebih “politis” dan rentan terhadap tekanan fiskal dari Gedung Putih di bawah administrasi Trump, telah memicu kekhawatiran akan devaluasi Dolar secara sengaja melalui kebijakan moneter yang terlalu longgar.

Prediksi Mayoritas di Polymarket. Rick Rieder memimpin dengan presentase 53%

Transmisi Ekspektasi Inflasi ke Harga Emas

Mari kita bedah mekanismenya secara akademis. Emas secara fundamental dipengaruhi oleh Real Yields (Imbal Hasil Riil). Rumusnya sederhana:

Real Yield = Nominal Yield – Inflation Expectations

Source: Trading Economics.

Ketika pasar mengantisipasi bahwa The Fed akan ditekan untuk mempertahankan suku bunga rendah meskipun inflasi tetap berada di atas target (sebuah kondisi yang disebut Financial Repression), maka imbal hasil riil akan turun atau bahkan masuk ke zona negatif. Karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi sangat rendah. Dalam kondisi di mana inflasi diekspektasikan meningkat akibat tarif perdagangan atau stimulus fiskal besar-besaran, emas menjadi instrumen paling efektif untuk menjaga daya beli. Mekanisme ini mengalir melalui koridor likuiditas institusional, di mana manajer aset memindahkan alokasi dari obligasi pemerintah yang berimbal hasil riil negatif ke dalam emas batangan.

Historical Comparison: Krisis Stagflasi 1970-an dan Setup 2022

Situasi kali ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan periode stagflasi tahun 1970-an dan awal konflik Ukraina pada 2022. Pada 1970-an, emas meroket karena hilangnya kepercayaan pada standar Dolar pasca-Bretton Woods dan inflasi yang tidak terkendali. Hari ini, meskipun inflasi tidak setinggi dulu, “Beban Utang” AS yang mencapai level rekor menciptakan jebakan kebijakan. Seperti pada tahun 2022, ketika geopolitik menjadi pemicu awal, emas digunakan sebagai instrumen untuk menetralkan risiko penyitaan aset atau sanksi keuangan. Pembelian masif oleh bank sentral global, terutama PBOC (Tiongkok), menunjukkan bahwa dunia sedang bersiap untuk sistem moneter yang lebih multipolar.

Interest Costs on the National Debt For Full Story

3. Blindspot Analysis

Pandangan konsensus retail saat ini sangat terfokus pada angka CPI (Consumer Price Index)/IHK (Indeks Harga Konsumen) dan kapan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga berikutnya. Narasi populer mengatakan, “Jika Fed pangkas bunga, emas naik.” Namun, kita harus melihat melampaui data permukaan ini. Blindspot atau titik buta yang diabaikan banyak pihak saat ini adalah kondisi di Repo Market (Pasar Repositori) dan krisis likuiditas di pasar obligasi pemerintah (Treasuries).

Efek Domino Likuiditas

Risiko tersembunyi yang sesungguhnya adalah ketidakmampuan pasar untuk menyerap pasokan obligasi AS yang baru diterbitkan untuk membiayai defisit fiskal yang kian lebar. Jika mekanisme lelang obligasi mulai gagal menarik minat investor asing (seperti bank sentral yang beralih ke emas), maka imbal hasil obligasi akan melonjak secara paksa, yang pada gilirannya akan memaksa The Fed untuk melakukan intervensi melalui Quantitative Easing (QE) terselubung yang mana kita pernah bahas di artikel sebelumnya US Shutdown Cuma Jeda Iklan? Ancaman Resesi & Sinyal ‘QE’ atau melakukan Yield Curve Control (YCC).

Treasury Term Premia – FEDERAL RESERVE BANK of NEW YORK

Jika skenario ini terjadi, efek dominonya adalah pelemahan Dolar secara mendadak dan lonjakan emas yang melampaui perkiraan siapa pun. Institusi sedang memperhatikan Term Premium pada obligasi jangka panjang. Jika term premium naik karena risiko kredit (bukan karena ekspektasi pertumbuhan), emas akan menjadi satu-satunya aset yang dianggap aman. Retail sering kali terlambat menyadari bahwa emas tidak hanya bereaksi terhadap inflasi, tetapi lebih sensitif terhadap Kehilangan Kepercayaan pada Kredit Berdaulat.

4. Cross-Asset Correlation & Intermarket Analysis

Untuk memahami pergerakan XAU/USD, kita harus menganalisis interaksinya dengan variabel makro lainnya:

  • US 10-Year Treasury Yield (US10Y): Secara tradisional, korelasi emas dan imbal hasil obligasi adalah negatif (berbanding terbalik). Namun, pada Januari 2026, kita melihat fenomena unik di mana keduanya naik secara bersamaan. Mengapa? Karena kenaikan imbal hasil saat ini didorong oleh Risk Premium (premi risiko), bukan oleh optimisme ekonomi. Ini mengajarkan kita bahwa ketika pasar obligasi sedang “stres”, emas berhenti berperan sebagai instrumen tandingan suku bunga dan mulai berperan sebagai instrumen lindung nilai terhadap kegagalan pasar.
Source: Tradingview US10Y
  • Dollar Index (DXY): DXY saat ini tertahan di level 98-100. Pelemahannya memberikan dorongan mekanis bagi emas. Karena emas dihargai dalam Dolar, setiap penurunan nilai Dolar membuat emas “lebih murah” bagi pembeli internasional yang menggunakan mata uang lain (seperti Euro atau Yen), sehingga meningkatkan permintaan fisik.
Source: Tradingview DXY
  • Energy Prices (Oil): Minyak mentah juga bertindak sebagai input inflasi. Emas dan Minyak sering bergerak searah dalam jangka menengah karena minyak adalah pendorong biaya produksi global. Jika biaya energi naik, ekspektasi inflasi naik, dan sesuai mekanisme yang dijelaskan sebelumnya, imbal hasil riil akan tertekan, yang menguntungkan emas.
Source: Updated Chart of WTI From Tradingview

5. Probability Scenarios & Trading Thesis

Berdasarkan data fundamental dan dinamika pasar saat ini, berikut adalah tesis perdagangan kami:

Bullish Thesis

Emas akan menembus dan bertahan di atas $5.000 jika:

  1. The Fed secara resmi mengonfirmasi sikap dovish akibat perlambatan data ketenagakerjaan.
  2. Ketegangan geopolitik terkait Greenland dan NATO memicu pelarian modal ke aset safe-haven.
  3. Bank sentral global (PBOC/RBI) melanjutkan akumulasi emas bulanan di atas rata-rata historis.Target: $5.200 – $5.500 pada akhir Semester I 2026.

Bearish Thesis

Koreksi tajam ke level $4.750 dapat terjadi jika:

  1. Terjadi de-eskalasi mendadak dalam konflik geopolitik melalui kesepakatan damai yang kredibel.
  2. Inflasi turun lebih cepat dari perkiraan, memungkinkan The Fed untuk mempertahankan suku bunga “High for Longer” tanpa risiko resesi.
  3. Adanya intervensi likuiditas besar-besaran yang menstabilkan pasar obligasi, sehingga mengurangi premi risiko pada emas.

Apa yang bisa kita pelajari.

Secara fundamental, bias kami tetap Strongly Bullish. Kekuatan struktural yang mendukung emas yaitu de-dollarisasi, krisis utang fiskal, dan ketidakpastian geopolitik terlalu kuat untuk diabaikan. Level $5.000 bahkan lebih bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target rasional dalam lingkungan ekonomi yang tidak menentu ini. Strategi yang paling bijak bagi pengelola portofolio adalah “Buy on Dip” Karena untuk sekarang kita masih belum melihat Data atau Narasi apa yang dapat membuat emas melakukan koreksi dalam.

“Kalau Om J Sendiri berdoa untuk kedamaian dari segala cerita geopolitik yang ada. Walau terkadang Doa yang kita minta berlawanan dengan kejadian yang sedang ada. Karena jika segala ketegangan geopolitik ini di biarkan, akan ada ancaman yang lebih nyata daripada sekedar kebangkrutan suatu negara”