HorizonFX Logo
Back to Blog
Analisis NFP November 2025: Ujian Kredibilitas BLS di Tengah Kekosongan Data Oktober

Analisis NFP November 2025: Ujian Kredibilitas BLS di Tengah Kekosongan Data Oktober


Horizon FX Indonesia – Data NFP November 2025 menjadi indikator paling ditunggu oleh investor global, trader mata uang (FX), analis ekonomi, dan pembuat kebijakan bank sentral, karena mencerminkan kondisi fundamental pasar tenaga kerja AS yang berdampak langsung pada keputusan suku bunga The Fed dan arah pasar aset global. Laporan ini luar biasa penting tahun ini setelah pemberhentian sebagian data karena shutdown pemerintah terpanjang dalam sejarah AS, yang membuat October 2025 employment report dibatalkan dan digabung ke laporan November. Tingkat ketidakpastian yang tinggi telah menciptakan sentimen fragile, uncertain, yet pivotal menjelang rilis ini.

Pengumuman Pembatalan Rilis Data NFP Oktober 2025 di dalam laporan resmi September 2025
Pengumuman Pembatalan Rilis Data NFP Oktober 2025 di dalam laporan resmi September 2025

Ke depan, pasar akan sangat memperhatikan angka payroll, prevalensi momentum perlambatan, serta korelasi antara angka resmi BLS dan indikator awal lain seperti ADP, sebuah survei yang telah mengindikasikan penurunan signifikan pada payroll sektor swasta di bulan November.

1. “The Blind Spot Theory”: Mengapa Data Oktober Benar-Benar Hilang?

Rilis data NFP November 2025 menjadi salah satu peristiwa makroekonomi paling krusial dan paling rumit sepanjang tahun fiskal 2025. Setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengonfirmasi tidak adanya rilis resmi untuk periode Oktober 2025 akibat lapse in appropriations (kebuntuan anggaran pemerintah), pasar global terpaksa bergerak tanpa panduan data selama satu siklus penuh.

double-barrel release NFP

Para investor institusional, trader, dan pembuat kebijakan di Federal Reserve kini menatap rilis November 2025 sebagai “double-barrel release”. Laporan ini tidak hanya menyajikan data November, tetapi juga memuat data survei perusahaan (establishment survey) untuk Oktober yang tertunda. Absennya data survei rumah tangga (household survey) untuk Oktober secara permanen menciptakan gap historis yang memaksa pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menafsirkan tingkat pengangguran (unemployment rate). Volatilitas ekstrem pada obligasi AS (Treasury) dan indeks dolar (DXY) diantisipasi saat pasar mencoba mencerna akumulasi data ini.

Buku Teori Shadow Government di Amerika oleh Jerry D. Gray

Di luar alasan birokrasi standar (aturan BLS tentang “minggu referensi”), terdapat lapisan analisis politik dan teori “Shadow Governance” yang ramai diperbincangkan di back-channel Washington dan Wall Street:

  • Teori 1: Penyelamatan Citra Administrasi (Political Shielding) Oktober 2025 adalah bulan krusial menjelang siklus pemilu sela (mid-term/gubernatorial elections). Ada dugaan kuat bahwa data pengangguran real di Oktober sebenarnya melonjak tajam (mungkin menembus 5%) akibat efek domino suku bunga tinggi. Membiarkan data itu “hangus” karena shutdown adalah “kelalaian yang disengaja” (strategic negligence) untuk mencegah kepanikan publik dan serangan lawan politik.
  • Teori 2: “The Fed’s Excuse” (Konspirasi Kebijakan) Beberapa ahli strategi makro berpendapat bahwa The Fed membutuhkan alasan untuk berhenti menaikkan suku bunga tanpa terlihat “lemah” atau mengakui kesalahan. Ketiadaan data Oktober memberikan Jerome Powell (atau penerusnya) plausible deniability (penyangkalan yang masuk akal) untuk mengatakan: “Data tidak lengkap, kita harus berhati-hati dan menunda kenaikan bunga.” Ini adalah cara halus untuk melakukan pivot dovish tanpa memicu inflasi ekspektasi.
  • Teori 3: Manipulasi Algoritma Dengan menghapus satu titik data dalam time-series, model algoritma AI yang dipakai bank besar (JPMorgan, Goldman Sachs) menjadi kacau (glitch). Hal ini menciptakan volatilitas likuiditas yang dimanfaatkan oleh market maker besar untuk mengambil posisi untung dari “kebingungan ritel”.

2. Data Terbaru dan Proyeksi Pasar

Laporan NFP November 2025 oleh Bureau of Labor Statistics (BLS) dijadwalkan dirilis pada 16 Desember 2025, pukul 08.30 WIB dan mencakup data payroll untuk October & November sekaligus akibat gangguan pengumpulan data.

NFP November 2025 release schedule
NFP November 2025 release schedule

Sebelumnya, angka terakhir yang tersedia untuk September 2025 menunjukkan penambahan 119.000 pekerjaan lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang jauh lebih rendah namun tetap mencerminkan perlambatan signifikan dibanding tren historis.

Sebelumnya: Nonfarm Payrolls AS September 2025: Persiapan Menjelang Rilis Data 20 November 2025, Akankah The Fed merasa lega dengan data yang mereka lewatkan selama penutupan pemerintah?

Sementara data ADP untuk sektor swasta bulan November menunjukkan penurunan -32.000 pekerjaan, jauh di bawah estimasi kenaikan, menandakan kelemahan yang tajam dalam hiring oleh perusahaan swasta.

Estimasi internal dari Bank of America Institute memperkirakan pertumbuhan payroll YoY yang menurun tajam menjadi sekitar +0.2%, menggarisbawahi perlambatan tajam dalam pasar tenaga kerja secara tahunan.

Bank of America (BoA) Estimate
Bank of America (BoA) Estimate

Berdasarkan konsensus terkini, berikut adalah rincian angka yang menjadi sorotan dalam rilis gabungan ini:

  • NFP November 2025: Konsensus berada di range angka 40.000-50.000. Angka ini diproyeksikan melonjak karena kembalinya pegawai pemerintah dan kontraktor yang sebelumnya tidak tercatat saat shutdown.
  • Pembukaan (Estabilishment) Data Oktober 2025: Diproyeksikan sangat rendah, di kisaran 45.000, mencerminkan dampak langsung pembekuan aktivitas ekonomi selama shutdown.
  • Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate): Diprediksi stabil di 4.4% untuk November. Catatan: Data Oktober tidak tersedia (N/A) karena survei rumah tangga tidak dilakukan.
  • Pendapatan Rata-rata Per Jam (Average Hourly Earnings): +0.2% MoM / +3.7% YoY.

Interpretasi Awal: Jika realisasi NFP November 2025 menembus angka 50.000, ini bukan murni sinyal kekuatan ekonomi, melainkan “efek teknikal” atau rebound pasca-shutdown. Pasar harus menyesuaikan ekspektasi rata-rata pergerakan 3 bulan (3-month moving average) untuk melihat tren yang sebenarnya.

3. Analisis Mendalam Komponen Data

Angka Subsektor NFP September 2025 Dibalik Headline
Angka Subsektor NFP September 2025 Dibalik Headline

Subsektor & Perubahan Industri. Di balik angka headline, struktur pasar tenaga kerja menunjukkan divergensi tajam:

  • Sektor Pemerintah & Pertahanan (Government): Diprediksi menjadi penyumbang terbesar kenaikan angka NFP November 2025. Ini adalah noise statistik, bukan pertumbuhan organik.
  • Layanan Kesehatan & Pendidikan (Private Education and Health Services): Tetap menjadi pilar defensif (“recession-proof”) dengan penambahan stabil sekitar 40.000 – 50.000 pekerjaan. Sektor jasa kesehatan dan bantuan sosial tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan lapangan kerja dalam bulan-bulan terakhir, namun tren ini melambat dari puncaknya.
  • Sektor manajemen transportasi dan pergudangan (Transportation and Warehousing): Sektor ini telah menghadapi tekanan pekerjaan yang negatif terutama akhir-akhir ini di data terakhir yang dipublikasikan.
  • Professional & business services: Menunjukkan dinamika pekerjaan yang fluktuatif, seringkali mengikuti ketidakpastian ekonomi makro.
  • Manufaktur & Konstruksi: Sektor sensitif suku bunga ini kemungkinan masih terkontraksi atau stagnan, tertekan oleh biaya pinjaman yang tinggi di tahun 2024-2025.

Demografis dan Partisipasi Tenaga Kerja:
Dengan hilangnya data Oktober, analisis partisipasi angkatan kerja (Labor Force Participation Rate) menjadi lebih sulit. Namun, tren jangka panjang menunjukkan pelemahan partisipasi pada kelompok usia prima (25-54 tahun) pria, yang menjadi sinyal peringatan dini bagi produktivitas jangka panjang.

Meski laporan household untuk Oktober tidak dikumpulkan (sehingga tak ada statistik pengangguran resmi untuk bulan tersebut), tren partisipasi tenaga kerja terutama kelompok usia muda menunjukkan tekanan dari sektor teknologi dan AI yang substitutif terhadap posisi entry-level.

Upah & Jam Kerja:
Data upah rata-rata dan jam kerja sering menunjukkan stagnasi relatif pada periode terbaru mencerminkan wage stagnation di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat. Ini sejalan dengan data BLS sebelumnya yang menunjukkan kenaikan upah yang moderat namun tidak cukup kuat mendorong konsumsi kelas menengah secara agresif.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi NFP November 2025

Domestic:

  • Shutdown Pemerintah 43 hari menyebabkan data penting tertunda/pembatalan, mengaburkan sinyal pasar tenaga kerja yang biasanya digunakan The Fed untuk pengambilan keputusan. Paralisis fiskal Government shutdown pada Oktober adalah penyebab utama distorsi. Ketidakpastian anggaran membuat perusahaan swasta menunda ekspansi (wait-and-see mode), yang terlihat dari rendahnya angka Oktober.
  • Kebijakan imigrasi dan pasokan tenaga kerja juga telah menurunkan partisipasi tenaga kerja secara relatif dibandingkan permintaan.
  • Kondisi Finansial Ketat. Meskipun The Fed mungkin telah melunakkan sikapnya dibanding tahun 2024, efek lagging dari suku bunga tinggi masih menekan belanja modal (Capex) perusahaan.
  • Integrasi AI dan otomatisasi turut mengubah peta perekrutan, terutama pada low-skilled jobs.

Eksternal:

  • Geopolitik & Rantai Pasokan Global. Ketegangan perdagangan yang berkelanjutan memaksa restrukturisasi rantai pasok, yang berdampak pada hiring freeze di sektor logistik dan transportasi global. Ketidakpastian global termasuk konflik geopolitik dan volatilitas permintaan ekspor AS menekan sektor-sektor yang padat kerja.
  • Tariff impact dan rantai pasok global yang terganggu juga menekan hiring di goods producing sectors.

Kombinasi faktor-faktor di atas menciptakan lingkungan yang structurally subdued, sebuah situasi di mana perusahaan bersikap wait-and-see terhadap investasi dan perekrutan baru.

5. Dampak Terhadap Kebijakan Moneter (The Fed)

The Fed telah menanggapi perlambatan pasar tenaga kerja pada pertemuan 11 Desember 2025 dengan penurunan suku bunga sejumlah 25 bps, dengan panduan lanjutan yang menekankan pendekatan yang measured and data dependent.

Data payroll yang lemah cenderung memperkuat argumen bagi lebih banyak penurunan suku bunga di 2026, tetapi Fed juga perlu menyeimbangkan mandat inflasi yang masih di atas target resmi.

Investor kini memperkirakan suku bunga acuan pada kisaran 3.50–3.75%, dengan ekspektasi volatilitas terhadap tingkat easing di awal tahun depan.

Federal Reserve berada dalam posisi sulit. Mandat ganda mereka (stabilitas harga dan tenaga kerja penuh) diuji oleh kualitas data yang buruk.

  • Sikap FOMC: Powell dan dewan gubernur kemungkinan akan mengabaikan (look through) lonjakan angka November dan kejatuhan angka Oktober, memilih untuk melihat rata-rata gabungan kuartal.
  • Ekspektasi Suku Bunga: Pasar swap saat ini memperprice probabilitas 25% pemangkasan suku bunga sebesar 25bps pada pertemuan Januari, dengan asumsi bahwa tren dasar tenaga kerja sebenarnya melambat (cooling) di luar gangguan shutdown.
  • Risiko Policy Error: Jika The Fed salah mengira rebound teknikal November sebagai inflasi upah yang persisten, mereka bisa menahan suku bunga terlalu lama (hawkish), berisiko memicu resesi yang lebih dalam di 2026.

6. Analisis Inflasi Terkini

Data tenaga kerja ini harus dibaca bersandingan dengan CPI/PCE.

  • Wage-Push Inflation: Dengan pertumbuhan upah (AHE) bertahan di 3.8% YoY, kekhawatiran spiral harga-upah (wage-price spiral) mulai mereda, namun belum hilang sepenuhnya. Target The Fed idealnya melihat pertumbuhan upah di kisaran 3.0% – 3.5% agar konsisten dengan target inflasi 2%.
  • Sektor Jasa (Services): Inflasi sektor jasa yang padat karya masih menjadi “sticky component”. Jika jam kerja (average weekly hours) naik di sektor jasa, tekanan inflasi inti mungkin masih persisten.

Meskipun headline inflasi telah turun dari puncaknya, core inflation tetap menunjukkan kekuatan pada komponen shelter dan biaya tenaga kerja yang stabil. Laju upah yang melambat sesuai dengan tren labor market yang stagnan mungkin membantu meredam tekanan inflasi jangka panjang, namun disrupsi rantai pasok dan kenaikan biaya tenaga kerja di sektor jasa masih memberikan tekanan struktural.

7. Simulasi Probabilistik (Pendekatan Kuantitatif)

Menggunakan model distribusi probabilitas untuk reaksi The Fed berdasarkan rilis data gabungan (Okt+Nov):

Misalkan N_{avg} adalah rata-rata penambahan lapangan kerja Oktober dan November.

  • Skenario A (Hawkish Hold): (N_{avg} > 150k) Probabilitas 25%
    • Implikasi: Ekonomi terlalu panas meski ada shutdown. The Fed menahan suku bunga.
  • Skenario B (Baseline Cut): (50k < N_{avg} < 150k) Probabilitas 55%
    • Implikasi: resiko mandat tenaga kerja masih di jalur penurunan inflasi. Pemangkasan 25bps lagi sangat mungkin.
  • Skenario C (Recessionary Cut): (N_{avg} < 50k) Probabilitas 20%
    • Implikasi: Pasar tenaga kerja retak. The Fed mungkin memangkas 50bps atau memberi panduan dovish yang agresif.

Menggunakan model probabilistik sederhana (Monte Carlo style):

ScenarioNFP November 2025Probability (%)Fed Response
Soft Landing>150K jobs25%Rate Hold / Minor Cut
Moderate Growth50–150K jobs40%Limited Easing (kondisi saat ini)
Weak Labor Market<50K jobs30%Aggressive Easing
Contraction / Recession SignalNegative jobs5%Emergency Easing

Interpretasi: Jika payroll lebih rendah dari ekspektasi konsensus, probabilitas Fed menurunkan suku bunga lebih agresif meningkat signifikan, yang cenderung melemahkan USD dan menguatkan aset safe-haven. Sebaliknya, pertumbuhan di atas ekspektasi dapat memperlambat ekspektasi penurunan suku bunga.

8. Skenario Angka Rilis & Reaksi Pasar

Berikut adalah matriks reaksi aset terhadap rilis data NFP November 2025 (mengingat tambahan Oktober):

SkenarioKondisi (NFP November 2025)Reaksi USD (DXY)Reaksi Emas (XAU)Reaksi S&P 500Obligasi (Yield 10Y)
Scorching Hot > 150kBullish Bearish Koreksi (Takut akan Fed Hawkish)Melonjak Tajam
Goldilocks (Ideal)50k – 150kNetral/VolatileStabil/Naik TipisBullish (Rally)Stabil/Turun Tipis
Ice Cold (Stagflation)0 – 50kBearish Bullish Bearish (Pertumbuhan ekonomi lemah)Turun
Shock Negative < 0Bearish TajamBullish KuatBearish (Ketakutan Resesi)Turun Tajam

9. Faktor Risiko & Katalis Penting

Risiko:

  • Revisi Data Historis: BLS sering melakukan revisi besar pasca-krisis atau gangguan data. Angka yang kita lihat hari ini bisa direvisi signifikan 2 bulan lagi.
  • Metodologi “Birth-Death Model”: Dalam kondisi ekonomi yang melambat, model statistik BLS untuk estimasi bisnis baru seringkali overestimate pertumbuhan lapangan kerja.
  • Harga Minyak: Volatilitas energi dapat menggerus daya beli upah riil, mengubah narasi dari “pertumbuhan upah” menjadi “biaya hidup”.

Katalis:

  • JOLTS data terbaru serta survei PMI lanjut
  • Weekly jobless claims yang meningkat menambah risiko downside. Reuters
  • Tingkat partisipasi tenaga kerja
  • Kebijakan fiscal US

10. Strategi Investor / Implikasi Pasar

Mengingat tingginya ketidakpastian data (“fog of war” ekonomi), pendekatan defensif namun oportunistik disarankan:

  1. Pasar Obligasi (Fixed Income):
    • Strategi: Beli obligasi tenor menengah (5-7 tahun) jika yield melonjak pasca rilis data yang “terlihat” bagus (karena distorsi). Tren jangka panjang tetap deflasi/disinflasi.
  2. Pasar Saham (Equities):
    • Sektor: Rotasi ke sektor Healthcare dan Consumer Staples. Hindari Consumer Discretionary jika data upah melambat drastis.
    • Tema: Kualitas neraca (high quality balance sheet) lebih penting daripada pertumbuhan spekulatif.
  3. Emas (Safe Haven):
    • Akumulasi pada koreksi. Emas berfungsi sebagai lindung nilai (hedge) terhadap kesalahan kebijakan The Fed (baik itu memangkas terlalu cepat atau menahan terlalu lama).
  4. USD / FX: Monitorkan yield spread US vs global; payroll lemah memicu USD melemah.
  5. Commodities: Metals cenderung naik pada risiko penurunan; minyak sensitif pada data permintaan tenaga kerja dan aktivitas.

Prinsip utama: diversifikasi, manajemen risiko, dan alert terhadap real-time data revisions.

Our Final Take : Mandat Ganda Menemukan Titik Terangnya

Pasar tenaga kerja AS terlihat signifikan melambat, dengan sinyal dari ADP dan estimasi Bank of America menunjukkan pertumbuhan yang makin tipis. Dampak dari shutdown data membuat interpretasi menjadi lebih rumit, namun tren keseluruhan menunjukkan labor market slackening (melonggar).

Apakah ekonomi kuat atau runtuh? Jawabannya: ekonomi berada dalam fase slow grind, bukan crash, tetapi momentum tenaga kerja tetap lemah dan berpeluang mempercepat easing suku bunga Fed. Fokus pasar kini tertuju pada 16 Desember 2025 sebagai momen penentu untuk melihat apakah tren ini berlanjut atau ada kejutan upside yang tak terduga.

Data payroll November akan menjadi lampu utama bagi prospek ekonomi makro AS di 2026, di tengah ketidakpastian global dan domestik yang terus membentuk arah kebijakan serta pasar keuangan global.

Ketiadaan data pengangguran Oktober secara permanen mungkin dianggap sebagai “kecelakaan birokrasi”, namun bagi investor yang cerdas, ini adalah sinyal: Sistem sedang berusaha menyembunyikan keretakan. Bersiaplah untuk soft landing yang mungkin terasa lebih keras dari perkiraan.

  • Verdict: Ekonomi AS kemungkinan besar sedang melambat (cooling), bukan runtuh, namun data headline November akan terlihat “kuat secara artifisial” karena kembalinya aktivitas pasca-shutdown.
  • Pesan Kunci: Jangan bereaksi berlebihan terhadap lonjakan angka NFP November 2025. Fokuslah pada rata-rata 3 bulan dan pertumbuhan upah.
  • Langkah Selanjutnya: Kami menyarankan investor untuk menunggu 30-60 menit pasca-rilis agar algoritma HFT (High-Frequency Trading) selesai memproses volatilitas awal sebelum mengambil posisi strategis.

Disclaimer: Analisis ini bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi finansial. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda.